Kamis, 06 Juni 2013

Bimillahirrahmanirrahim

Semakin Dimudahjkan gerak langkah ini oleh Allah. Citailah Allah maka engkau akan menemukan makna cinta yang sebenarnya, jangankan dunia bahkan langit dan apa yang ada diantara keduanya jika Dia berkenan itu dapat kau miliki. Hidup ini bukan hanya sekedar bagaimana kita memikirkan kesuksesan hari esok (itu mah sampingan sob) yang paling penting tingkatkan kualitas ibadah, kerja dan usaha kita. Dengan itu sukses hanya efek sampingnya saja, jauh dari itu kau akan temukan kenyamanan dengan meningkatkan kedekatan kita pada Sang Khalik, fokuskan kerja kita karena Allah dan maksimalkan dalam berusaha karena kita ingin selalu memberikan yang terbaik untuk Nya


Hikmah hari ini, Do The Best of Anything Is Lillah

Kamis, 23 Mei 2013

Hari Ini

Bandung, terlalu sesak ruangan ini. namun tak bisa hentikan taqdir Tuhan agar ia menuntun kita untuk jumpa yang pertama.
Registrasi masuk PT awa mula aku menjumpai mu dan hanya satu kata untuk kesan itu : sederhana. lama setelah itu Tuhan memilih kita agar aku tetap berdampingan dengan orang aneh, yakni kamu.
Banyak tawa, banyak air mata pula. Hingga tatapan mereka menatap kita tak pernah dewasa satu sama lain.
Aku tak perduli
Di ujung penat hari ini, sore ini saat ini usiamu berkurang, aku ingin sedikit berdo'a. Mudah-mudahan hidupmu barokah dan meninggal dalam keadaan Khusnul Khatimah. 

Jadilah Dirimu sendiri! yang selalu SEMANGAT!

Jika hidup terasa menyakitkan, bahagialah! Karena Tuhan ada dan trengah menatapmu.


Terimakasih, saya senang mengenalmu dan mohon maaf.
_Eli N.A_

Selasa, 07 Mei 2013


Optimalisasi Pembelajaran IPS dengan Meluruskan Empat Mindset Keliru  terhadap IPS Sebagai Upaya memulihkan Krisis  Moral yang Melanda Anak Bangsa
Oleh : Vira Pratiwi
“Indonesia sedang meradang, krisis moral yang terjadi dimana-mana membuat ngeri siapa saja yang terlibat didalamnya atapun sebatas menyaksikan pemberitaan di media masa. Hampir setiap hari masyarakat dihadapkan dengan berita kriminal maupun kasus asusila. Fenomena-fenomena yang terjadi akhir-akhir ini menimbulkan kesan bahwa bangsa kita semakin menjauh dari nila-nilai Pancasila. Negara yang berlarut-larut dilanda krisis moral, dekadensi moral atau demoralisasi akan semakin mengarah ke Negara yang gagal (filed state). Salahsatu aspek yang bertanggungjawab berkaitan dengan permaslahan saat ini adalah pendidikan, dan lebih spesifik lagi pendidikan IPS. Karena hal tersebut, maka perlu ditinjau kembali mengenai pelaksanaan pendidikan di Indonesia saat ini. Yakni sebagai upaya untuk memulihkan kembali krisis-krisis moral yang sedang terjadi. Upaya yang harus dilakukan salasatunya dengan mengoptimalkan pembelajaran IPS di berbagai jenjang pendidikan. Adanya asumsi keliru di masyarakat dan siswa mengenai pembelajaran IPS yang beranggapan bahwa pelajaran IPS merupakan hapalan belaka, sehingga menyebabkan siswa cenderung pasif dalam pembelajaran dan IPS tidak bisa dijadikan tolak ukur kecerdasan siswa. Titik kulminasinya adalah adanya anggapan masyarakat bahwa IPS tidak dapat menjamin masa depan siswa. Jika asumsi tersebut sudah diluruskan maka pelaksanaan pembelajaran IPS akan optimal dan outputnya siswa akan memiliki keterampilan yang diharapkan”

       Kata kunci  : pendidikan, IPS, krisis moral.
Bangsa Indonesia merupakan Negara yang berideologikan Pancasila. Seyogyanya dalam hidup berbangsa dan bernegara masyarakat  berpegang kepada  nilai-nilai luhur Pancasila. Namun saat ini Indonesia sedang meradang. Kalimat ini yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang sedang terjadi.. Hampir setiap hari masyarakat dihadapkan dengan berita kriminal maupun asusila. Fenomena-fenomena yang terjadi akhir-akhir ini menimbulkan kesan bahwa bangsa kita semakin menjauh dari nila-nilai Pancasila. Disisi lain pesatnya perkembangan teknologi menyebabkan dengan mudahnya akses informasi antar lokasi. Hal tersebut “Seperti dua sisi mata pisau” yang suatu saat sangat bermanfaat, tapi jika lengah akan memberikan dampak negatif yang luar biasa pula. Contoh kas usnya adalah saat ini anak usia sekolah dasar dengan mudahnya  mengakses intenet di tempat umum (warnet) tanpa pengawasan dari orang dewasa yang berakibat fatal. Pada bulan April ini telah terjadi 12 kasus pelecehan seksual pada anak perempuan di Kabupaten Karangasem Bali. Secara rata-rata umur korban sekitar 12 tahun hingga 14 tahun. Anak-anak perempuan tersebut menjadi korban pelecehan seksual karena tidak memiliki kemampuan yang baik dalam memanfaatkan teknologi informasi dan media jejaring sosial (http://www.beritabali.com/index.php/page/berita/dps/detail/ 04/04/2013/12-Kasus-Pelecehan-Seksual-Pada-Anak-di Karang asem/201107022371).
Perkembangan IPTEKS yang pesat harus diseimbangi dengan social knowledge yang  memadai agar tidak terjadi disequilibrasi yang mengakibatkan ketimpangan sosial dan bermuara pada krisis moral. Krisis moral merupakan situasi dimana manusia memudarkan martabatnya sebagai manusia yang hidup dalam batasan nilai dan norma dan semakin menjauh pada nilai Pancasila. Hal tersebut tidak baik jika dibiarkan berlarut-larut dikarenakan jika tunas bangsa sudah terkontaminasi hal ini maka dikhawatirkan moral Negara ini akan memudar bahkan menjadi bangsa yang terancam menjadi bangsa yang gagal (filed state). Negara yang gagal dipicu oleh krisis moral, dekadensi moral atau demoralisasi yang dibiarkan berlarut-larut. Maka dari itu perlu diadakannya peninjauan ulang mengenai keberlangsungan pendidikan di Negara ini. Pelaksanaan pendidikan di suatu Negara memiliki amanah yang sangat penting untuk mencetak generasi penerus bangsa yang kelak menjadi pilar berdirinya suatu Negara. Sebagaimana fungsi pendidikan di Indonesia “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.” (UU SISDIKNAS N0. 20 Tahun 2003). Maka dari itu, permasalahan di atas harus  dikembalikan lagi kepada penyelenggaraan pendidikan sebagai tombak pembentuk karakter bangsa dan harapan dapat memperbaiki krisis moral yang terjadi saat ini di Negara kita.
Jika berbicara mengenai pendidikan tentu saja ruang lingkupnya sangat luas. Dalam konteks permasalahan yang terjadi solusi yang tepat yakni dengan mengoptimalkan pembelajaran IPS diberbagai jenjang pendidikan.
  Menutut Tomy Hartono (2012):
“Melalui pembelajaran IPS siswa didorong secara aktif menelaah interaksi antara kehidupan dilingkungannya, kini dan masa yang akan datang, menelaah gejala-gejala lokal, regional, dan global dengan memanfaatkan keterampilan pengkajian social. Untuk mengembangkan pengetahuan yang relevan mereka juga menelaah nilai-nilai proses demokratis keadilan sosial, dan kelanggengan ekologis untuk menimbang isu-isu moral dan etis bagi pengembangan kepedulian tentang nilai-nilai dan hakekat nila-nilai masyarakat”
Dari pendapat di atas menunjukan peran penting pendidikan IPS dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pengatahuan dalam berinteaksisosial serta menelaah gejala-gejala sosial yang terjadi  IPS juga erat kaitannya dengan lingkungan sosial, dimana lingkungan sosial memiliki peran yang penting dalam membentuk karakter sesorang. Karena fitrah manusia yang dilahirkan sebagai mahluk yang tidak bisa hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya (Human Social). Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang ingin selalu bergaul dan berkumpul dengan manusia, menjadi “zoon politicon” yakni makhluk yang bermasyarakat (Aristoteles). Maka dari itu untuk menjalin interaksi yang baik antar sesama diperlukannya pengetahuan agar interaksi ini senantiasa berjalan pada koridor yang tepat. Setiap individu harus memiliki keterampilan intelektual, keterampilan personal, juga  keterampilan sosial, yang semua itu didapatkan dari belajar IPS. Keterampilan  intelektual berkaitan dengan bagimana seseorang dalam berfikir, menginternalisasi informasi dari luar dengan nalar. Selain itu juga mampu mengklasifikasi setiap fenomena yang terjadi, menganalisis dari berbagai segi. Setiap tindakan yang dilakukan individu merupakan hasil internalisasi dari berfikir sosial yang mendalam. Sedangkan keterampilan personal bersifat individual dan biasanya setiap orang memiliki keterampilan personal yang berbeda dalam berinteraksi. Selanjutnya keterampilan sosial adalah keterampilan seorang individu menjalin hubungan interaksi dengan individu lainnya. Ketiga ketermapilan tersebut diaplikasikan dengan memperahatikan nilai dan norma yang berlaku.
Dalam pelaksanaannya ada beberapa hal yang harus diluruskan dari beberapa asumsi yang keliru terhadap IPS (Menurut TIM Dosen IPS UPI):
1.      Pelajaran IPS hanyalah hapalan belaka yang disampaikan oleh guru secara ceramah atau bercerita di muka kelas.
2.      Dalam pembelajaran IPS siswa cenderung pasif.
3.      IPS tidak bisa dijadikan tolak ukur kecerdasan siswa
4.      Pelajaran IPS tidak dapat menjamin masa depan siswa.
Apabila penyelenggara pendidikan dapat mengoptimalkan IPS dalam pelaksanaannya maka keempat asumsi itu bisa dipatahkan. Tidak selamanya pembelajaran IPS itu dihapalkan atau diceritakan melainkan harus menggunakan nalar dan intelegensi yang tinggi. Sikap Respect terhadap realita sosial merupakan proses internalisasi nalar yang tinggi, butuh kepekaan terhadap lingkungan untuk mampu menumbuhkannya. Siswa tidak akan pernah pasif dalam pembelajaran IPS karena sehari-hari siswa dihadapkan dengan keadaan sosial yang dikaji dalam pelajaran IPS. Pelajaran IPS dapat dijadikan tolak ukur kecerdasan siswa, karena siswa yang cerdaslah yang mampu menelaah, menganalisa, dan mengambil suatu kesimpulan terhadap suatu peristiwa sosial yang terjadi dimasyarakat. Jika nilai-nilai dalam pembelajaran IPS dipahami, dihayati, diaplikasikan dengan baik maka siswa sebagai penerus bangsa akan memiliki keterampilan intelektual, personal maupun sosial yang baik sehingga akan memiliki peran penting dalam membangun cita-cita bangsa menuju masa depan yang gemilang bukan hanya masa depan secara pribadi tetapi juga masa depan Negara. Peran penting Pendidikan IPS tersebut kurang disadari baik oleh guru maupun siswa, sehingga dalam pelaksanaannya masih seadanya dan cenderung cukup dengan mengetahui teori saja, secara keseluruhan belum optimal.
Optimalisasi Pembelajaran IPS harus melibatkan seluruh komponen yang bersentuhan dengan anak (siswa). Keluarga harus mampu mengarahkan anak agar sesuai dengan output yang diharapkan dalam belajar IPS. Bagaimanapun juga keluarga merupakan peletak pertama (pondasi) pendidikan anak. Peran Guru yang mengajar IPS juga harus mampu mengemas pembelajaran secara kreatif sehingga belajar IPS bukan berarti sekedar memenuhi kognitif siswa saja, tetapi afektif dan psikomotor siswa. Selain peran  keluarga dan guru,  lingkungan sosial juga tidak kalah pentingnya. Lingkungan dimana anak tinggal tidak boleh bertentangan dengan apa yang diajarkan dalam IPS. Sehingga anak akan mampu mengaplikasikan dengan baik pendidikan  yang ia peroleh dari keluarga maupun sekolah di lingkungan sosialnya. Dibutuhkan usaha secara bersama-sama untuk membentuk generasi penerus bangsa yang sesuai dengan dalam tujuan pendidikan dan tentunya sesuai dengan Pancasila.  Saat ini kita harus segera meninggalkan krisis moral yang melanda anak bangsa dengan bersama-sama mengoptimalkan pendidikan IPS di berbagai jenjang. Baik peran kita sebagai pelaksana pendidikan, pengawas pendidikan maupun objek pendidikan.
Sebagaimana firman Allah swt dalam Surah ar-Rum Ayat 41 yang artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Maka dapat disimpulkan bahwa krisis moral yang terjadi tidak terlepas dari apa yang diperbuat manusia itu sendiri karena kurang pemahaman dan aplikasi  dari  pengetahuan dan keterampilan sosial yang seharusnya dimiliki setiap individu. Upaya untuk memulihkan krisis moral yang telah terjadi yakni dengan optimalisasi pembelajaran IPS diberbagai jenjang dengan meluruskan berbagai asumsi keliru mengenai pembelajaran IPS. Sehingga setelah semua pihak baik siswa maupun guru juga masyarakat menyadari peran penting pendidikan IPS, pelaksanaannya dapat dioptimalkan dengan dukungan dari berbagai pihak. Pada akhirnya output yang didapat anak sebagai tunas penerus bangsa memiliki moral yang sesuai dengan nilai pancasila dan dapat meraih cita-cita bangsa Indonesia.

Sumber Rujukan:
·         TIM Dosen IPS UPI. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Di Sekolah Dasar. Tasikmalaya: UPI Tasikmalaya.
(23 April 2013)

Senin, 06 Mei 2013


SEMARAK HARDIKNAS 2013
UPI KAMPUS TASIKMALAYA
Tasikmalaya, Kamis 2 Mei 2013 UPI Kampus Tasikmalaya yang dipromotori oleh BEM REMA UPI Tasikmalaya melaksanakan upacara peringatan hari pendidikan nasional (HARDIKNAS) yang jatuh tepat pada hari ini. Upacara yang dimulai pukul 07.15 s.d. 08.30 WIB diikuti oleh Mahasiswa dan dosen UPI Tasikmalaya berlangsung dengan khidmat. Pembina dalam upacara kali ini ialah Direktur UPI Kampus Tasikmalaya yang pada kesempatan kali ini diwakilkan kepada Drs. Yusuf Suryana, M.Pd. (Sekretaris Umum UPI Kampus Tasikmalaya) dan  petugas upacaranya yaitu Tim Inti Petugas Upacara UPI Tasikmalaya yang terpilih melalui seleksi. Tim  Inti ini memang dipersiapkan untuk menjadi petugas upacara peringatan hari besar nasional.
Mengingat basic UPI Kampus Tasikmalaya adalah sebagai kampus pendidikan, momen ini dijadikan pula sebagai waktu yang tepat untuk merefleksi diri dan pembangkit semangat untuk para calon guru yang kelak akan menjadi creator generasi penerus bangsa.
Dalam kesempatan upacara hari ini Pembina Upacara membacakan amanat dari Menteri Pendidikan Indonesia yakni Mohammad Nuh yang menganalogikan kondisi pendidikan saat ini bagaikan kondisi tubuh yang harus memiliki imunitas yang kuat.
”Ibarat tubuh, agar tahan terhadap penyakit, haruslah daya imunitasnya ditingkatkan, satu dari upayanya adalah melalui vaksinasi. Dampak perspektif sosial kemasyarakatan ada tida penyakit sosial yang sangat besar dampak negatifnya yaitu: kemiskinan, ketidahtahuan, keterbelakangan beradaban. Cara menaikan daya tahan (imunitas) sosaial agar terhindar ketiga macam penyakin tersebut maka jawabannya adalah pendidikan.”
Disampaikan juga informasi mengenai kurikulum 2013 bahwa mulai tahun pelajaran 2013/2014 akan diterapkan kurikulum 2013 untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah secara bertahap dan terbatas. Bertahap dalam arti tidak semua kelas dan terbatas hanya untuk beberapa sekolah yang sudah siap saja. Akhir dari pesan beliau  mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional dan meminta maaf atas nama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai persoalan penyelenggaraan ujian nasional tingkat SMA se-derajat tahun pelajaran 2012/2013.
Harapan tertinggi setelah peringatan hari besar pendidikan nasional ini bangsa kita semangat kembali menata dan membangun pendidikan yang sempat tergoyahkan oleh kasus-kasus pemberitaan di media masa yang mencoreng dunia pendidikan.       Dengan semangat para pemuda disertai dengan bimbingan dari para pendahulunya juga tekad untuk terus meraih cita-cita tertinggi mencerdaskan kehidupan bangsa, sudah saatnya kita bergerak untuk memajukan pendidikan bangsa ini.
­_ Selamat Hari Pendidikan Nasional_
Vira Pratiwi_staff. menteri Penelaran Ilmiah BEM REMA UPI Tasikmalaya




http://berita.upi.edu/2013/05/02/upacara-hardiknas-2013-upi-kampus-tasikmalaya-berlangsung-khidmat/

Sabtu, 16 Maret 2013


Belajar dari ketenangan dan kejerniahan mata air di kampung ulin
(Rara)
Setelah berputar putar mencari sumber air bersih untuk memasak kami tidak menyadari bahwa sunber air itu teramat dekat dengan kita. Salah seorang warga Nampak tersenyum dan mengarahkan, ”neng, pami bade nyondong cai mah teu kedah keluar ti kampunng ulin, di caket kolam alit ogen aya cai burial, warga oge sok nyondong ti palih dinya”. Kamipun tereharan-heran letak air tersebut ternyata tak jauh dari tempat kami menyalakan tungku untuk memasak. Kami terkecoh dengan sebuah danau yang keruh dan agak tidak terawat, setelah kami hampiri ternyata disamping danau ada sumbr mata air yang begitu amat jernih. Entah mengapa seketika mata ini menyimpulkan bahwa seakan belum pernah melihat sumber air sejernih ini.  Akupun terhipnotis. Kilauan nya memaksa untuk tetap memandangi jernih dan damainya situasi saat itu. Seakan aku melihat wajah sosok ayah dan bundaku disana yang tampak seaakan ingin menggapai tanganku, Akupun ingin memeluk erat mereka. Sebelah kanan tersenyum sosok adik yang selalu ceria seakan memksa ku untuk masuk kedalamnya dan bermain ria disana, nun jauh disana. Kiri atas nenekku Nampak sedang berbincang dengan anak dan cucu kesayangannya,, ia teramat bahagia dan merajuk kepadaku agar tenggelam bersama kebahagiaan itu. Sudut kanan bawah sahabat-sahabatku tampak melambai-lambaikan tangan mereka, seakan  merindukan kebersamaan dahulu setelah perpisahan yang cukup lama diantara kita. Tiba-tiba mereka memudar…. Tunggu! aku tak kunjung ucapkan satu kata jua. Jauh dikedalaman itu akupun memaksa mereka untuk mendenagrkan teriakan ku. Aku sayang kalian semua.
Sedikit demi sedikit ingatanku kembali pada domainnya. Aku terlalu lama ditempat ini. Temanku diperapian menyeru untuk segera ke sana, kawan-kawan lainnya sudah tak sabar untuk menyulap genggaman bulir putih ini. Bergegaslah kawanku menyiapkan hidangan yang mereka sebut makanan kaya vit. A dan kami menikmati hidangan seakan berada di tepi pantai dengan debur ombak yang landai.
 Aku bersukur, masih ada kawan yang mau berbagi senyumnya untukku, masih ada alam yang mau menerima kehadiranku, dan masih ada jatah nafas yang Tuhan berikan untuk ku pada hari ini, detik ini dalam kesempatan yang ceria ini.

Rabu, 13 Maret 2013


Kritik Sastra
Hari ini 14 Maret 2013 pukul 16.15 salah satu UKM (Unit Kegiata Mahasiswa) di UPI Tasikmalaya yakni AKSARA (Area Komunitas Seni dan Sastra) melaksanakan kajian rutin dengan topik  "kritik sastra". Istilah ”kritik” (sastra) berasal dari bahasa Yunani yaitu krites yang berarti ”hakim”.Krites sendiri berasal dari krinein ”menghakimi”; kriterion yang berarti ”dasar penghakiman” dan kritikos berarti ”hakim kasustraan”.
Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra sebagai karya seni. 

Tulisan:
Kemelut Persiapan TCA di UPI Tasikmalaya

Saat ini kampus UPI Tasikmalaya sedang mempersiapkan atlet terbaiknya untuk berlaga di medan TCA yang tahun ini dilaksanakan di Purwakarta. Pada tanggal 21 Maret 2013 Setiap Kamda akan unjuk kemampuan serta memaksimalkan penampilan tiap bifdangnya demi mengharumkan nama Kamda masing-masing. Kamda Tasikmalaya yang diperkuat dengan 100 atlet lebih siap untuk mengibarkan bendera UPI Kampus Tasikmalaya dan menancapkannya di puncak keberhasilan. Semoga. Namun dalam perjalananan menuju puncak tersebut ada beberapa batu kerikil yang menyebabkan panitia pelaksanan harus sedikit menambah tenaga mereka demi terlaksananya perhelatan akbar ini. Permasalahannya tak jauh mengenai dana. Setelah mengingat dan menimbang berbagai keadaan akhirnya panitia pelaksanan TCA UPI Tasikmalaya menetapkan bahwa demi berlangsungnya acara tersebut mahasiswa UPI Tasikmalaya harus membanyar iuran sebesar Rp. 70000. Beban dana TCA tidak sepenuhnya dibebankan kepada mahasiswa tetapi sebagian besar mahasiswa bertanya-tanya kenapa meski bayar sebesar itu, tahu kan kantong mahasiswa?. Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung selama seminggu lebih. Setelah ada salah satu panitia memasuki ruang kelas  dan menjelaskan rincian dana yang disusun panitia. Setelah itu terlihat mahasiswapun mengerti dan nampak mengangguk-ngangguk paham. Dibalik kecurigaan yang muncul dibenak mahasiswa ternyata banyak fenomena yang mengharukan. Mahasiswapun mengerti perjuangan panitia yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut sedemikian rupa. Dan memang sudah selayaknya kita semua bahu membahu mengsukseskan acara ini.

Rara

Sangat diperbolehkan mengkritik dan memberi saran untuk tulisan ini, silahkan post di komentar :)

Selasa, 12 Maret 2013


Mungkin adalah sebuah harapan
Mungkin bukan keputus asaan
(ijin copas ya)

aku tahu..
kehidupan suatu saat akan bersilangan lagi
seseorang di suatu waktu dan tempat yang berbeda
mungkin saat itu Tuhan lebih berbaik hati
membisikkan padaku jawaban atas kenapa dan bagaimana
mungkin...

mungkin kehidupan akan bersilangan lagi
seseorang di tempat dan waktu yang berbeda
dan saat itu terjadi
aku tidak akan bertanya kenapa dan bagaimana
karena aku telah mendapatkan jawabannya
mungkin...


Pada Akhirnya Bukan kita yang menentukan jalan hidup kita tetapi tangan Tuhan yang menentukannya
So' give youre best can you do!